Demensia adalah sindrom gejala gangguan fungsi otak

Demensia adalah sindrom gejala gangguan fungsi otak

Keterbatasan pengetahuan dan kesalahpahaman mengenai demensia adalah beberapa hal utama mengapa tercipta sebuah stigma negatif terhadap orang dengan demensia.

Saat pertama menyadari bahwa ada sesuatu “perubahan” pada perilaku atau kebiasaan anggota keluarga kita, mungkin masih belum berpikir terlalu jauh. Suara kecil di benak berkata, “mungkin mama kecapaian hari ini, jadi rada moody” atau “papa sepertinya terlalu terburu-buru, jadi kelupaan di mana menaruh dompetnya.” Tetapi dengan berjalannya waktu, perubahan perilaku ini mungkin mulai terjadi lebih sering, bahkan suatu saat menjadi “pola baru”. Saat kita menyadari kenyataan ini, ada kemungkinan anggota keluarga kita sudah mulai mengalami kondisi demensia yang mengkhawatirkan.

Pedoman ini bertujuan untuk memberikan pencerahan ringkas bagi khalayak umum agar dapat memahami apa yang dimaksud dengan demensia, beberapa gejala umum penyakit ini, dan tips dalam berinteraksi dengan orang dengan demensia.

Demensia adalah?

Demensia adalah sebuah sindrom, di mana sindrom adalah sekumpulan gejala yang saling terkait dan/atau timbul bersama. Dalam hal demensia, gejala-gejala yang timbul disebabkan oleh kegagalan fungsi otak yang mempengaruhi fungsi kognitif seseorang. Dengan demensia kemampuan berpikir, mengingat, dan bernalar mulai menghilang. Mulai timbul pula keterbatasan kemampuan dan perubahan perilaku sedemikian rupa sehingga mengganggu kehidupan dan aktivitas sehari-hari orang dengan demensia tersebut.

Fungsi-fungsi kognitif termasuk memori, kemampuan berbahasa, persepsi visual, pemecahan masalah, pengendalian diri, dan kemampuan untuk fokus dan memperhatikan sesuatu. Beberapa orang dengan demensia tidak dapat mengendalikan emosi mereka, dan kepribadian mereka dapat berubah.

Kondisi demensia adalah sebuah spektrum yang umumnya didefinisikan dalam tujuh tahapan (Stages). Mulai dari tingkat satu di mana masalah belum terdeteksi hingga tingkat tujuh saat orang dengan demensia tersebut harus bergantung sepenuhnya pada orang lain untuk membantu dalam kegiatan dasar kehidupan sehari-hari seperti perawatan diri, berbusana, makan-minum, dan lainnya.

Mengapa Kondisi Demensia Terjadi?

Kondisi demensia terjadi ketika neuron yang sehat (sel saraf) di otak berhenti berfungsi, kehilangan koneksi dengan sel-sel otak yang lain, dan mati. Meskipun seiring bertambahnya usia semua orang akan kehilangan beberapa neuron, orang dengan demensia mengalami kehilangan yang jauh lebih besar dibanding orang pada umumnya. Dan, perlu ditekankan bahwa timbulnya demensia bukan merupakan bagian normal dari proses penuaan. Banyak orang hidup sampai usia 90-an dan seterusnya tanpa tanda-tanda demensia. Bahkan salah satu jenis demensia, yang diakibatkan gangguan pada bagian otak frontotemporal, lebih sering terjadi pada usia paruh baya daripada orang yang lebih tua.

Apa Penyebab Demensia?

Demensia dapat disebabkan oleh beberapa hal, tergantung pada jenis perubahan otak dan fungsi syaraf yang mungkin terjadi. Kegagalan fungsi otak dalam kasus demensia bisa diakibatkan oleh beberapa kemungkinan.

Salah satu penyakit penyebab demensia yang paling umum adalah Alzheimer yang mengakibatkan 50-75% kasus demensia. Alzheimer adalah sebuah penyakit yang menyerang otak secara langsung dengan timbulnya endapan protein yang abnormal di seluruh otak, sehingga neuron yang sehat mulai berhenti berfungsi, kehilangan koneksi dengan neuron lain, kemudian mati. Selain Alzheimer, terdapat ragam hal lain yang dapat mengakibatkan kegagalan fungsi otak, seperti penyakit otak lainnya seperti Lewy Body dan Frontotemporal demensia, maupun demensia vaskuler yaitu kondisi demensia yang disebabkan oleh gangguan aliran darah ke otak. Gangguan aliran darah ini bisa disebabkan beberapa hal seperti penyakit jantung, darah tinggi, diabetes, dan kolesterol tinggi. Selain dari penyakit, kegagalan fungsi otak juga dapat terjadi karena hal lain seperti keracunan, faktor keturunan, atau tekanan psikologis seperti depresi.

Tentu dapat dibayangkan bahwa otak manusia adalah sebuah organ yang sangat kompleks dan memegang fungsi sangat penting. Maka gangguan pada fungsi otak akan memberikan dampak yang cukup besar pada kehidupan seseorang terkait kemampuan, perilaku, dan kepribadiannya. Setiap bagian otak memiliki fungsinya masing-masing. Maka masalah yang timbul bisa berbeda tergantung bagian otak yang mengalami gangguan. Misalnya, bagian Frontal Lobe adalah bagian otak yang mengendalikan kemampuan kognitif yang penting seperti pengendalian emosi, daya pikir, kepribadian, dan pembuatan keputusan. Sedangkan bagian Occipital Lobe bertanggung jawab atas kemampuan melihat (melalui mata) seperti menginterpretasikan warna, cahaya, dan gerakan.

Meskipun ada beberapa hal yang dapat menyebabkan demensia, karena sampai saat ini belum tersedia solusi medis untuk menyembuhkannya, maka semua jenis demensia mempunyai empat ciri berikut:
1. Minimal dua bagian otak mengalami kegagalan, salah satunya termasuk fungsi daya ingat.
2. Sifatnya kronis, yaitu bertahan untuk durasi waktu yang panjang atau gejala yang timbul terus menerus.
3. Sifatnya progresif di mana kondisinya semakin lama semakin parah.
4. Sifatnya terminal, artinya kondisi demensia akan diakhiri dengan meninggalnya sang penderita.

Gejala-Gejala Umum Demensia dan Tips Dalam Menghadapinya

Dengan mengacu pada pedoman standar dari organisasi Alzheimer Indonesia (ALZI.or.id) mengenai 10 gejala-gejala umum demensia, berikut beberapa tips terkait setiap gejala Orang Dengan Demensia (ODD):

Gejala: Gangguan daya ingat 

Antara lain sering lupa akan kejadian yang baru saja terjadi atau lupa janji. Juga menanyakan dan menceritakan hal yang sama berulang kali, atau lupa tempat menyimpan sesuatu.

Tips Dalam Berinteraksi

Jawab pertanyaan dan jalankan percakapan dengan sabar. Meskipun pertanyaan atau sebuah topik pembahasan dilakukan berulang, jawablah seakan setiap kali adalah kali pertama topik tersebut diungkapkan. Secara proaktif, ungkapkan pertanyaan lainnya yang dapat memicu daya ingat atau kenangan lain yang masih dimiliki.


Gejala: Sulit fokus

Antara lain sulit melakukan pekerjaan sehari-hari atau memakai telepon. Juga tidak dapat melakukan perhitungan sederhana atau memakan waktu lebih lama dari biasanya dalam melakukan sesuatu.

Tips Dalam Berinteraksi

Berbicaralah secara jelas dan tidak tergesa-gesa untuk memastikan bahwa ucapan anda dapat dipahami. Beritahu bahwa anda hadir untuk membantu, dan secara tulus berikan dukungan dan asistensi sesuai kebutuhannya.


Gejala: Sulit melakukan kegiatan yang familiar

Seringkali sulit untuk merencanakan atau menyelesaikan tugas sehari-hari, bingung cara mengemudi, sulit mengatur keuangan.

Tips Dalam Berinteraksi

Bantu dalam merencanakan kegiatan sehari-harinya dengan sabar dan tenang. Berikan bimbingan dan tuntunan dalam melakukan hal-hal yang masih dapat mereka lakukan sendiri secara aman.


Gejala: Disorientasi

Bingung akan tempat atau waktu (hari/tanggal/jam). Bingung di mana mereka berada dan bagaimana mereka sampai di sana, tidak tahu cara pulang ke rumah.

Tips Dalam Berinteraksi

Yang utama adalah memvalidasi perasaan emosional mereka. Jika mereka merasa resah, akui rasa kekhawatiran mereka sambil berusaha menjelaskan kondisi sesungguhnya. Namun, jangan paksakan realita sesungguhnya. Misalnya, jika pada malam hari mereka bersikeras bahwa itu sebetulnya pagi hari, maka terimalah pendapat mereka sambil mengalihkan perhatian mereka pada topik lain.


Gejala: Kesulitan memahami visuo-spasial

Sulit untuk membaca, menentukan jarak atau membedakan warna. Juga tidak mengenali wajah sendiri di cermin, menabrak dinding/pintu saat berjalan, atau sukar menuang air ke dalam gelas dengan tepat.

Tips Dalam Berinteraksi

Persiapkan dan lengkapi area tinggal mereka dengan hal-hal yang mendukung kemampuan mereka yang sudah terbatas. Misalnya memakai warna yang cukup berbeda untuk menandai perbedaan level pada lantai, membuat halangan fisik pada area rumah yang membahayakan. Memberi asistensi dan dukungan sehari-hari sesuai kebutuhan.


Gejala: 
Gangguan dalam berkomunikasi

Kesulitan berbicara dan mencari kata yang tepat, seringkali berhenti di tengah percakapan dan bingung untuk melanjutkannya.

Tips Dalam Berinteraksi

Simak alur percakapan dan perhatikan perilaku emosional mereka agar dapat memahami makna yang ingin disampaikan. Ulang kembali hasil penangkapan anda untuk menandakan bahwa anda memahami apa yang telah mereka sampaikan. Berbicaralah dengan jelas dan tidak tergesa-gesa.


Gejala: Menaruh barang tidak pada tempatnya

Misalnya menyimpan kunci rumah dalam lemari es, kemudian menjadi curiga ada yang mencuri atau menyembunyikan barang tersebut.

Tips Dalam Berinteraksi

Warga yang mulai mengalami kelupaan dapat dibantu dengan menyediakan petunjuk untuk mengarahkan perilakunya sehari-hari. Misalnya, menandakan tempat untuk menyimpan kunci dengan plang “Simpan kunci di sini.” Akan terbantu juga dengan situasi rumah dan area yang rapi dan tertata agar lebih mudah melihat dan menemukan sesuatu.


Gejala: Kesulitan membuat keputusan yang wajar

Tidak dapat memilih pakaian sehingga berpakaian tidak serasi, sukar dalam menentukan keinginannya, tidak merawat diri dengan baik.

Tips Dalam Berinteraksi

Dalam situasi ini, hubungan relasi yang baik sangat penting antara mereka dan pendampingnya, baik anggota keluarga sendiri ataupun seorang penyedia jasa. Ketulusan hati dan kasih sayang dalam membantu mereka dalam merawat diri, berbusana dan pembuatan keputusan lainnya harus senantiasa dilakukan demi kepentingan dan kebaikan mereka secara utama.


Gejala: Menarik diri dari pergaulan

Tidak memiliki semangat atau inisiatif untuk melakukan aktivitas atau hobby yang biasa diminati, tidak berminat untuk berkumpul dengan teman-temannya.

Tips Dalam Berinteraksi

Pahamilah bahwa gejala ini dapat terjadi karena beberapa hal, antara lain: malu karena lupa cara melakukan sesuatu, minder atau takut karena mulai tidak mengenal orang di sekitarnya. Oleh karenanya, kita harus secara aktif mengajak mereka melakukan sesuatu, apapun itu, dari hal sederhana seperti mengobrol, melipat pakaian, bernyanyi, hingga melakukan proyek seni karya bersama dan aneka permainan.


Gejala: Perubahan perilaku dan kepribadian

Emosi berubah secara drastis, menjadi bingung, curiga, atau depresi. Juga menjadi takut atau tergantung yang berlebihan pada anggota keluarga, mudah kecewa dan putus asa dalam situasi sehari-hari.

Tips Dalam Berinteraksi

Perkembangan penyakit yang terjadi dalam otak orang dengan demensia adalah hal yang mau tidak mau akan merubah kepribadian mereka. Mereka seakan menjadi orang lain yang tidak kita kenal sebelumnya. Terimalah fakta ini dengan hati dan pikiran yang terbuka, dan layani mereka sebagaimana mereka berada pada saat ini. Setiap interaksi adalah momen baru bagi orang dengan demensia, tidak ada lagi konsep kemarin atau besok. Semua hal yang kita lakukan dengan mereka adalah pengalaman baru yang perlu kita lakukan dengan semangat yang positif.

Prinsip Dasar dalam Berinteraksi dengan ODD

Tentunya perilaku yang mungkin timbul dari seorang ODD bisa beragam sesuai keunikan setiap individu. Penyebab sebuah perilaku juga mungkin berbeda dari satu kasus ke kasus yang lain. Selain itu, karena ciri demensia yang progresif, gejala yang pertama-tama timbul cukup ringan sifatnya, lambat laun menjadi lebih parah. Maka dengan berjalannya waktu akan ada sebuah gradasi dari intensitas gejala atau perilaku yang Anda hadapi, dan akan memerlukan penyesuaian dari masa ke masa.

Apapun perilaku, intensitas, dan fase demensia yang dihadapi, ada beberapa prinsip dasar yang perlu menjadi pegangan bagi Anda dalam berkomunikasi dan melayani seorang ODD:

  • Perilaku ODD umumnya dilakukan di luar kendali nalarnya.
    • Menyuruh ODD untuk tidak melakukan sesuatu adalah upaya yang kurang efektif. Mengajak mereka melakukan hal lain akan lebih bermanfaat.
    • Secara umum, strategi penanganan perilaku akan terbantu dengan:
      • menemukan akar masalah munculnya sebuah perilaku.
      • mempertimbangkan situasi/keadaan yang berkontribusi terhadap perilaku yang timbul.
  • Anda harus bisa “masuk ke dunianya” dan melayani dengan sabar.
    • Prinsip empati adalah kunci utama di mana Anda perlu berusaha merasakan apa yang tengah dialami ODD pada saat itu. Sadari bahwa khususnya di fase demensia dini, ODD akan mengalami kesulitan untuk memahami/ menerima perubahan dalam dirinya, menjadi bingung, atau stres karena merasa keinginannya tidak bisa terpenuhi.
    • Pada poin ini penting Anda kenali juga Metode Validasi di mana Anda memvalidasi (mengakui) persepsinya dan perasaannya sehingga interaksi Anda menyesuaikan dengan realita yang diekspresikannya. Misalnya, seorang ODD berkata sedang menunggu suaminya pulang kantor, padahal sebetulnya suaminya sudah almarhum. Maka percakapan dan interaksi Anda dengan ODD harus dilakukan seakan-akan realita beliau adalah yang betul, yaitu bahwa suaminya masih di kantor. Kunci dari pengaplikasian Metode Validasi adalah pada ketulusan Anda saat berinteraksi dengan ODD, di mana percakapan yang Anda lakukan menyesuaikan dengan realita yang dipersepsikan ODD dan bukan sekedar upaya untuk membungkamkan ekspresi beliau.
  • Tingkat emosi dan perilaku Anda akan berdampak pada emosi ODD.
    • Membentak, berbicara dengan keras, memarahi, bahkan melakukan tindakan fisik pada ODD tidak akan membuatnya lebih kooperatif. Sebaliknya, perlakuan yang ramah dan memahami adalah yang diperlukan untuk menimbulkan rasa tenang dan kepercayaan dari ODD.
  • Tindakan perlu dilakukan dengan memprioritaskan kebutuhan ODD di atas kebutuhan kita.
    • Meskipun terkadang keinginan atau kebutuhan ODD terjadi dalam kondisi yang kurang ideal bagi Anda, menyesuaikan pada kebutuhan ODD seringkali menghindari konflik dan menghasilkan situasi yang lebih damai. Misalnya, waktu untuk mandi atau makan seringkali perlu mengikuti irama suasana hati ODD dan tidak dapat dipaksakan dengan jadwal yang baku.
  • Semua interaksi perlu menjaga martabat ODD sebagai seorang dewasa yang patut dihargai.
    • Akibat kegagalan fungsi otak, secara umum kemampuan ODD akan menurun sehingga suatu saat akan berperilaku seperti anak kecil. Di saat itu perlu diingat bahwa ODD senantiasa harus diperlakukan secara hormat layaknya seorang dewasa biasa. Sadarilah bahwa meskipun nalar ODD mengalami penurunan, namun perasaan emosionalnya masih berfungsi lama setelah daya pikir dan daya ingatnya menurun. Maka rasa emosional seperti malu, takut, sedih, kebahagiaan, dan kebanggaan masih dapat dirasakan dengan baik.

Meningkatkan pemahaman mengenai demensia adalah hal yang perlu dilakukan agar dapat berinteraksi dengan orang dengan demensia. Dengan demikian diharapkan stigma negatif terkait perilaku orang dengan demensia akan berkurang. Sebaliknya, pemahaman yang lebih baik memberikan kesadaran bagi kita dalam berinteraksi dan melayani orang dengan demensia secara optimal.

RUKUN Senior Care
Email: info@rukunseniorliving.com
Phone: 021 8795 1525 

Tentang RUKUN Senior Living

Kami percaya bahwa kebahagiaan dan kenyamanan hidup adalah kunci bagi kualitas hidup seseorang. Maka RUKUN Senior Living menyajikan ragam sarana hunian dan pelayanan bagi warga senior untuk mendukung segala kebutuhan warga senior – baik senior yang memiliki gaya hidup mandiri dan dinamis, hingga yang memerlukan dukungan lebih sehari-hari.

Opsi pelayanan yang beragam tersedia untuk menyesuaikan kebutuhan warga. Bagi warga senior yang tinggal di rumah sendiri atau bersama keluarga, tersedia:

  • RUKUN Senior Club (Klub lansia) bagi warga senior yang mandiri untuk mengikuti kegiatan sepanjang hari. Tersedia di Darmawan Park Sentul dan Vimala Hills, Gadok (Jadwal terbatas).
  • Dementia Day Program kegiatan harian bagi senior dengan demensia adalah rangkaian kegiatan dan interaksi untuk mengoptimalkan kesehariannya. Tersedia di Darmawan Park, Sentul dan Dementia Support Center, Cipete.
  • RUKUN Home Care bagi senior yang membutuhkan pelayanan caregiver profesional di rumah (Layanan di area JaBoDeTaBek).

Bagi yang ingin menetap di kawasan RUKUN Senior Living, Sentul, dapat menikmati konsep Continuing Care Retirement Community (CCRC) dengan rangkaian sarana dan pelayanan yang terpadu sebagai solusi bagi setiap fase hidup warga senior:

  • RUKUN Senior Living Resort dengan sarana yang lengkap dan ragam layanan pendukung termasuk program kegiatan, wellness monitoring, food and beverage, housekeeping dan laundry, dan jasa Assisted Living. Fasilitas yang lengkap pula termasuk Activity Room, Game Room, Art Room, Swimming Pool, Jacuzzi, danau, jogging path, gazebo,
  • RUKUN Senior Care menyajikan sarana dan pelayanan yang lebih intim bagi warga yang memerlukan Dementia Support (Dukungan demensia) dan Nursing Care.  Termasuk program kegiatan, pemantauan 24-jam oleh staff wellness, dan doctor on staff.

www.rukunseniorliving.com
Email: info@rukunseniorliving.com
Phone: 021 8795 1525
facebook@RUKUNSeniorLiving

Demensia adalah sindrom gejala gangguan fungsi otak

One thought on “Demensia adalah sindrom gejala gangguan fungsi otak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to top