Senior Living Indonesia yang Pertama
August 23, 2018
Peran Indra Peraba Sebagai Terapi Demensia
September 6, 2018

Tips Melayani Orang Dengan Demensia

Keterbatasan pengetahuan dan kesalahpahaman merupakan beberapa hal utama mengapa tercipta sebuah stigma negatif terhadap orang dengan demensia. Pedoman ini bertujuan untuk memberikan pencerahan ringkas bagi khalayak umum agar dapat memahami apa yang dimaksud dengan demensia, beberapa gejala umum penyakit ini, dan tips dalam berinteraksi dengan orang dengan demensia.

 

Apa itu Demensia?

Demensia adalah sebuah kondisi di mana fungsi kognitif seseorang — berpikir, mengingat, dan bernalar — mulai menghilang. Dan mulai timbul pula keterbatasan kemampuan dan perubahan perilaku sedemikian rupa sehingga mengganggu kehidupan dan aktivitas sehari-hari.

Fungsi-fungsi kognitif termasuk memori, kemampuan berbahasa, persepsi visual, pemecahan masalah, pengendalian diri, dan kemampuan untuk fokus dan memperhatikan sesuatu. Beberapa orang dengan demensia tidak dapat mengendalikan emosi mereka, dan kepribadian mereka dapat berubah.

Kondisi demensia adalah sebuah spektrum, mulai dari tingkat keparahan yang paling ringan, ketika baru mulai mempengaruhi fungsi seseorang, hingga ke tahap yang paling parah, saat orang tersebut harus bergantung sepenuhnya pada orang lain untuk membantu dalam kegiatan dasar kehidupan sehari-hari seperti perawatan diri, berbusana, makan-minum, dan lainnya.

 

Mengapa Kondisi Demensia Terjadi?

Kondisi demensia terjadi ketika neuron yang sehat (sel saraf) di otak berhenti berfungsi, kehilangan koneksi dengan sel-sel otak yang lain, dan mati. Meskipun seiring bertambahnya usia semua orang akan kehilangan beberapa neuron, orang dengan demensia mengalami kehilangan yang jauh lebih besar dibanding orang pada umumnya. Dan, perlu ditekankan bahwa timbulnya demensia bukan merupakan bagian normal dari proses penuaan. Banyak orang hidup sampai usia 90-an dan seterusnya tanpa tanda-tanda demensia. Bahkan salah satu jenis demensia, yang diakibatkan gangguan pada bagian otak frontotemporal, lebih sering terjadi pada usia paruh baya daripada orang yang lebih tua.

 

Apa Penyebab Demensia?

Demensia dapat disebabkan oleh beberapa hal, tergantung pada jenis perubahan otak dan fungsi syaraf yang mungkin terjadi. Penyakit Alzheimer adalah penyebab paling umum dari demensia pada orang yang sudah lanjut usia. Penyakit penyebab demensia lainnya termasuk Lewy Body, gangguan otak bagian frontotemporal, dan penyakit vaskular. Umumnya penderita demensia memiliki campuran penyakit yang menyebabkan kondisinya, misalnya kombinasi penyakit Alzheimer dan vaskular.

 

Gejala-Gejala Umum Demensia dan Tips Dalam Menghadapinya

Dengan mengacu pada pedoman standar dari organisasi Alzheimer Indonesia mengenai gejala-gejala umum demensia, berikut beberapa tips terkait setiap gejalanya:  

Gejala Tips Dalam Berinteraksi
Gangguan daya ingat – antara lain sering lupa akan kejadian yang baru saja terjadi, lupa janji, menanyakan dan menceritakan hal yang sama berulang kali, dan lupa tempat menyimpan sesuatu. Jawab pertanyaan dan jalankan percakapan dengan sabar. Meskipun pertanyaan atau sebuah topik pembahasan dilakukan berulang, jawablah seakan setiap kali adalah kali pertama topik tersebut diungkapkan. Secara proaktif, ungkapkan pertanyaan lainnya yang dapat memicu daya ingat atau kenangan lain yang masih dimiliki.  
Sulit fokus – antara lain sulit melakukan pekerjaan sehari-hari, berbicara di telepon, tidak dapat melakukan perhitungan sederhana, memakan waktu lebih lama dari biasanya dalam melakukan sesuatu. Berbicaralah secara jelas dan tidak tergesa-gesa untuk memastikan bahwa ucapan anda dapat dipahami. Beritahu bahwa anda hadir untuk membantu, dan secara tulus berikan dukungan dan asistensi sesuai kebutuhannya.
Sulit melakukan kegiatan yang familiar – seringkali sulit untuk merencanakan atau menyelesaikan tugas sehari-hari, bingung cara mengemudi, sulit mengatur keuangan. Bantu dalam merencanakan kegiatan sehari-harinya dengan sabar dan tenang. Berikan bimbingan dan tuntunan dalam melakukan hal-hal yang masih dapat mereka lakukan sendiri secara aman.
Disorientasi – Bingung akan masa atau waktu (hari/tanggal/jam), bingung di mana mereka berada dan bagaimana mereka sampai di sana, tidak tahu cara pulang ke rumah. Yang utama adalah memvalidasi perasaan emosional mereka. Jika mereka merasa resah, akui rasa kekhawatiran mereka sambil berusaha menjelaskan kondisi sesungguhnya. Namun, jangan paksakan realita sesungguhnya. Misalnya, jika pada malam hari mereka bersikeras bahwa itu sebetulnya pagi hari, maka terimalah pendapat mereka sambil mengalihkan perhatian mereka pada topik lain.   
Kesulitan memahami visua spasial – Sulit untuk membaca, menentukan jarak, membedakan warna, tidak mengenali wajah sendiri di cermin, menabrak dinding/pintu saat berjalan, sukar menuang air ke dalam gelas dengan tepat. Persiapkan dan lengkapi area tinggal mereka dengan hal-hal yang mendukung kemampuan mereka yang terbatas. Misalnya memakai warna yang cukup berbeda untuk menandai perbedaan level pada lantai, membuat halangan fisik pada area rumah yang membahayakan. Memberi asistensi dan dukungan sehari-hari sesuai kebutuhan.
Gangguan dalam berkomunikasi – kesulitan berbicara dan mencari kata yang tepat, seringkali berhenti di tengah percakapan dan bingung untuk melanjutkannya. Simak alur percakapan dan perhatikan perilaku emosional mereka agar dapat memahami makna yang ingin disampaikan. Ulang kembali hasil penangkapan anda untuk menandakan bahwa anda memahami apa yang telah mereka sampaikan. Berbicaralah dengan jelas dan tidak tergesa-gesa.
Menaruh barang tidak pada tempatnya – misalnya menyimpan kunci rumah dalam lemari es, kemudian menjadi curiga ada yang mencuri atau menyembunyikan barang tersebut. Warga yang mulai mengalami kelupaan dapat dibantu dengan menyediakan petunjuk-petunjuk untuk mengarahkan perilakunya sehari-hari. Misalnya, menandakan tempat untuk menyimpan kunci dengan plang “Simpan kunci di sini.” Mereka juga akan terbantu dengan situasi rumah dan area yang rapi dan tertata dengan baik agar dapat dengan lebih mudah melihat dan menemukan sesuatu.  
Kesulitan membuat keputusan yang wajar – tidak dapat memilih pakaian sehingga berpakaian tidak serasi, sukar dalam menentukan keinginannya, tidak merawat diri dengan baik. Dalam situasi ini, hubungan relasi yang baik sangat penting antara mereka dan pendampingnya, baik anggota keluarga sendiri ataupun seorang penyedia jasa. Ketulusan hati dan kasih sayang dalam membantu mereka dalam merawat diri, berbusana dan pembuatan keputusan lainnya harus senantiasa dilakukan demi kepentingan dan kebaikan mereka secara utama.
Menarik diri dari pergaulan – tidak memiliki semangat atau inisiatif untuk melakukan aktivitas atau hobby yang biasa diminati, tidak berminat untuk berkumpul dengan teman-temannya. Pahamilah bahwa gejala ini dapat terjadi karena beberapa hal, antara lain: malu karena lupa cara melakukan sesuatu, minder atau takut karena mulai tidak mengenal orang di sekitarnya. Oleh karenanya, kita harus secara aktif mengajak mereka melakukan sesuatu, apapun itu, dari hal sederhana seperti mengobrol, melipat pakaian, bernyanyi, hingga melakukan proyek seni karya bersama dan aneka permainan.
Perubahan perilaku dan kepribadian – emosi berubah secara drastis, menjadi bingung, curiga, depresi, takut atau tergantung yang berlebihan pada anggota keluarga, mudah kecewa dan putus asa dalam situasi sehari-hari. Perkembangan penyakit yang terjadi dalam otak mereka mau tidak mau akan lama kelamaan merubah kepribadian mereka, seakan menjadi orang lain yang tidak kita kenal sebelumnya. Terimalah fakta ini dengan hati dan pikiran yang terbuka, dan layani mereka sebagaimana mereka berada pada saat ini. Setiap interaksi adalah momen baru bagi mereka, tidak ada lagi konsep kemarin atau besok, semua hal yang kita lakukan dengan mereka adalah pengalaman baru yang perlu kita lakukan dengan semangat yang positif.

 

Dengan meningkatkan pemahaman kita mengenai akibat demensia, gejala yang timbul, dan tips cara berinteraksi dengan warga demensia, diharapkan bahwa tidak lagi ada stigma negatif terkait perilaku mereka. Sebaliknya, pemahaman yang lebih baik memberikan kesadaran bagi kita dalam berinteraksi dan melayani warga demensia dengan optimal.  

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *