Ragam Alternatif Hunian Lansia di Indonesia

Empat orang lansia sedang berkumpul di kolam renang

Ragam Alternatif Hunian Lansia di Indonesia

Sekarang ini, ragam alternatif hunian lansia di Indonesia sudah tersedia. Di Indonesia cukup lazim bagi warga lansia (senior) di atas 60 tahun untuk tinggal dengan anaknya. Namun tidak semua orang mempunyai anak, mungkin anaknya tinggal di kota/negara lain, atau karena satu dan lain hal seorang warga lansia tidak dapat tinggal bersama dengan anaknya. Dalam situasi demikian tentunya seorang warga lansia perlu mempunyai solusi alternatif hunian lansia yang lain.

Artikel ini membahas beberapa alternatif hunian lansia yang bisa menjadi opsi bagi warga lansia yang tidak tinggal bersama anak, dengan pembahasan mengenai beberapa faktor pertimbangannya.

Rumah Tangga Sendiri

Tentunya banyak warga lansia yang hidup mandiri dan memilih untuk terus menetap di rumah tangga sendiri, baik yang mungkin berbentuk rumah atau apartemen. Terutama jika masih berpasangan, seringkali sepasang suami istri yang sudah lansia lebih nyaman tinggal di rumah yang telah dihuninya selama puluhan tahun sebelumnya, yang sudah mencerminkan segala kepribadiannya dan penuh dengan kenangan sepanjang masa hidupnya. Bahkan masih banyak juga senior janda atau duda yang memilih untuk tinggal sendiri karena menikmati kenyamanan di rumahnya sendiri.

Faktor Pertimbangan:

Kondisi Fisik Rumah – Apakah kondisi fisik rumah mendukung mobilitas dan keamanan warga jika ada keterbatasan fisik warga yang timbul dengan bertambahnya usia? Misalnya, perbedaan level permukaan lantai dari satu ruang ke ruang yang lain yang memerlukan step/anak tangga, permukaan lantai yang mudah licin, penerangan/pencahayaan yang memadai, jenis dan posisi jendela yang aman, ketersediaan railing pada teras atau balkon yang memadai, dan aneka rancangan lain yang ramah lansia.

Perawatan dan pengelolaan rumah tangga – Tentunya setiap rumah tangga sebagai alternatif hunian lansia, baik berbentuk rumah (landed house) atau apartemen memerlukan perawatan dan pengelolaan sehari-hari, misalnya kebersihan rumah dan halaman, mencuci piring dan pakaian, dan membayar aneka tagihan rumah tangga (mis. belanja, listrik, dan air). Ditambah juga dengan aneka reparasi yang mungkin timbul, dari mengganti bohlam dan keran menetes, hingga atap bocor. Kondisi yang ideal adalah jika warga senior yang berumah tangga sendiri mempunyai asisten rumah tangga, atau anggota keluarga/kerabat yang bisa membantu dalam memenuhi aneka tugas pengelolaan rumah tangga jika diperlukan. Namun, di luar pekerjaan rumah tangga itu sendiri, senior pemilik rumah mungkin perlu juga mengatur kekaryawanan asisten rumah tangga yang ada, misalnya dengan perekrutan, penggajian, dan hal kepersonaliaan lainnya.

Sosialisasi dan kehidupan yang aktif – Dua hal penting dalam mempertahankan kesejahteraan jasmani dan kognitif di masa usia lanjut adalah adanya kesibukan yang bermakna dan interaksi sosial yang rutin dengan orang lain. Bagi warga senior yang tinggal di rumah sendiri, bisa mengalami kondisi terisolasi jika tidak membiasakan adanya kegiatan rutin di rumah atau kesempatan untuk bertemu dan berinteraksi dengan orang lain di luar rumah.             

Keamanan dan keselamatan – Perlu dipertimbangan faktor keamanan dan keselamatan khususnya bagi seseorang yang tinggal sendiri (tanpa pasangan atau asisten rumah tangga) atau yang tinggal dengan orang lain yang mempunyai keterbatasan dalam memperhatikan faktor resiko atau kondisi darurat yang mungkin timbul. Misalnya, solusi apa yang tersedia jika warga senior yang tinggal sendiri jatuh cidera atau mengalami kondisi medis, lupa mematikan kompor, atau menghadapi situasi beresiko lainnya.   

Kesesuaian jangka panjang – Beberapa faktor pertimbangan yang telah dijabarkan mungkin relevan dalam jangka pendek. Namun, bermanfaat juga bagi seorang warga senior untuk memikirkan solusi hunian yang bisa mengakomodir kebutuhannya jangka panjang. Misalnya, tidak bisa dihindari bahwa kemampuan fisik seseorang akan lama-kelamaan  menurun dengan bertambahnya usia. Maka perlu diamati apakah aneka hal terkait rumah yang dihuni sekarang dapat, atau dengan mudah, memenuhi kebutuhan yang mungkin ada dikemudian hari; misalnya, jika timbul kebutuhan perawatan akibat serangan penyakit atau penurunan kognitif seperti demensia.

Co-Housing

Meskipun sebetulnya cukup lazim sebagai pilihan alternatif hunian lansia di Indonesia, namun istilah “co-housing” belum sering dipakai untuk mendeskripsikan situasi di mana seorang warga senior tinggal serumah bersama teman atau relasi lain yang bukan anaknya sendiri. Seringkali teman atau relasi serumah ini (kerap disebut “house mate”) sesama lansia, namun bisa juga orang yang lebih muda. Rancangan gaya hidup ini berbeda dengan seseorang yang tinggal serumah dengan caregiver/pendamping atau asisten rumah tangga karena dalam opsi co-housing, hubungan antara warga adalah sebagai teman/rekan, bukan sebagai majikan dengan karyawan. Biasanya kondisi co-housing terjadi karena para pihak melihat adanya keuntungan dalam hidup bersama, mungkin dari segi ekonomis, pertemanan (interaksi sosial), maupun saling mendukung/membantu dalam aneka tugas berumah tangga sehari-hari. Bentuk hunian “indekost” yang lazim di Indonesia juga termasuk dalam konsep co-housing, dan meskipun lebih umum bagi orang usia produktif, belakangan ini mulai menjadi opsi bagi warga senior juga.  

Faktor Pertimbangan:

Kondisi Fisik Rumah – Sama halnya dengan tinggal sendiri di rumah, kondisi fisik hunian yang menjadi tempat tinggal bersama perlu mendukung mobilitas dan keamanan warga senior jika ada keterbatasan fisik yang timbul dengan bertambahnya usia.

Perawatan dan pengelolaan rumah tangga – Sama halnya dengan tinggal di rumah sendiri, co-housing tetap memerlukan adanya keterlibatan warga dalam mengelola rumah tangga. Bedanya adalah bahwa tanggung jawab dan aneka tugas dapat terbagi antara para warga serumah.

Sosialisasi dan kehidupan yang aktif – Umumnya kebutuhan interaksi sosial bisa terdukung dalam opsi co-housing karena warga senior hidup bersama. Lebih ideal jika memang para warga yang tinggal bersama ini bisa memiliki kecocokan minat dan kemampuan yang serasi dan saling menunjang sehingga dapat berinteraksi dan berkegiatan bersama secara optimal. Namun, menjalankan kehidupan yang aktif dengan kegiatan sepenuhnya menjadi inisiatif dan tanggung jawab warga seniornya sendiri.

Keamanan dan keselamatan –Hunian pribadi atau bentuk hunian bersama “umum” seperti indekost jarang yang telah dirancang secara khusus mempertimbangkan kebutuhan warga senior. Maka perlu dipertimbangan faktor keamanan dan keselamatan khususnya bagi seseorang yang mungkin mengalami keterbatasan dengan bertambahnya usia. Dan, seperti halnya tinggal di rumah sendiri, bisa menjadi pertimbangan juga apakah di hunian tersebut ada sesama warga atau karyawan yang mumpuni untuk menangani kondisi beresiko atau darurat jika diperlukan.

Kesesuaian jangka panjang – Sama halnya dengan tinggal di rumah sendiri, bisa dipertimbangkan apakah aneka hal terkait hunian yang sekarang dapat, atau dengan mudah, memenuhi kebutuhan yang mungkin ada dikemudian hari.

Panti Werdha (Yayasan Sosial atau Pemerintah)

Panti werdha (kerap disebut panti jompo) adalah sarana hunian bersama bagi warga senior yang dikelola oleh badan pemerintah atau yayasan swasta. Pada saat ini, panti werdha adalah alternatif hunian lansia bersama yang paling lazim di Indonesia. Tergantung fasilitas dan kelas kamar yang tersedia, seorang warga senior bisa menyewa dari kamar tidur sendiri, sekamar berdua atau lebih, hingga ruangan bangsal, dan memakai sarana umum untuk kegiatan sehari-hari lainnya seperti ruang makan, area kegiatan, dan ruang duduk bersama. Umumnya biaya bulanan termasuk semua layanan rumah tangga seperti pembersihan kamar, pencucian pakaian, penyediaan makan, serta layanan caregiver/pendamping dan dukungan kesehatan lainnya yang mungkin diperlukan warga senior.   

Faktor Pertimbangan:

Sosialisasi dan kehidupan yang aktif – Karena sifatnya hunian bersama, maka kebutuhan interaksi sosial bisa terdukung karena warga senior akan senantiasa dikitari warga lain dan para staff di sana. Panti werdha adalah sarana sosial yang didukung oleh dana tunjangan (dari pemerintah atau donatur swasta), sumbangan, dan tenaga relawan, maka sarana dan layanan yang tersedia umumnya cukup sederhana. Fokus utama adalah pada pelayanan kebutuhan hidup sehari-hari. Program kegiatan yang terkoordinir umumnya diadakan secara berkala, mungkin per minggu atau per bulan sesuai kemampuan operasionalnya. 

Keamanan dan keselamatan – Umumnya panti werdha merupakan tempat yang cukup aman bagi warga senior karena telah dirancang secara khusus mempertimbangkan kebutuhan warga senior.

Keleluasaan Pribadi – Tergantung aturan yang berlaku dan tipe akomodasi yang disewa, mungkin terdapat batasan keleluasaan pribadi. Misalnya, di beberapa panti berlaku jam besuk/kunjungan di mana warga tidak senantiasa bebas untuk menerima tamu atau bepergian. Juga, warga yang menghuni sekamar dengan orang lain umumnya tidak bisa menentukan siapa yang menjadi teman sekamarnya. Dan, penggunaan ruangan juga terbatas untuk mengakomodir kenyamanan warga sekamar lainnya.

Pemanfaatan Sarana/Tunjangan Sosial – Panti werdha didirikan dengan dana tunjangan atau sumbangan dan peruntukkan utamanya adalah sebagai sarana sosial yang menyajikan hunian bagi warga senior yang mengalami keterbatasan pilihan hunian lain. Oleh karena itu seyogyanya fasilitas panti werdha digunakan oleh warga senior yang memang mengalami keterbatasan ekonomi karena memanfaatkan tunjangan dengan peruntukkan sosial.   

Kesesuaian jangka panjang – Meskipun panti werdha secara spesifik dirancang untuk mengakomodir kebutuhan warga senior, sebagian di antaranya hanya bisa melayani warga senior yang masih cukup mandiri atau dengan kebutuhan perawatan terbatas. Hanya beberapa panti werdha yang dapat melayani warga senior dengan kebutuhan pendampingan yang tinggi, misalnya dengan demensia ataupun kebutuhan dukungan fisik lainnnya.

Rumah Sakit

Tentunya semua orang memahami konsep dan fungsi rumah sakit sebagai tempat untuk perawatan dan pengobatan jangka tertentu, baik sebagai rawat jalan dan rawat inap. Namun rumah sakit juga telah menjadi salah satu alternatif hunian lansia di Indonesia karena seseorang memerlukan asistensi dalam kehidupan sehari-hari.

Faktor Pertimbangan:

Sosialisasi dan kehidupan yang aktif – Karena fokus utama sebuah rumah sakit adalah sebagai sarana medis dan penyembuhan, umumnya rumah sakit akan sangat minim dalam menyajikan kesempatan yang memadai untuk bersosialisasi dan menjalankan kehidupan yang aktif. Terutama karena umumnya rumah sakit akan melayani pasien dengan ragam penyakit, maka interaksi antar pasien perlu dijaga untuk pengendalian infeksi dari satu pasien ke pasien yang lain. 

Keamanan dan keselamatan – Rumah sakit adalah sarana yang umumnya paling memadai dalam menawarkan keamanan dan keselamatan dari segi kecanggihan perawatan dan medis. Namun, sebaliknya karena rumah sakit juga melayani ragam pasien dengan jenis penyakit yang di antaranya mungkin menular, maka bagi orang yang tidak memerlukan penanganan medis, tinggal di rumah sakit dapat menimbulkan resiko lain.   

Keleluasaan Pribadi – Umumnya di rumah sakit berlaku jam besuk/kunjungan di mana warga tidak senantiasa bebas untuk menerima tamu atau bepergian. Juga, karena klasifikasi usaha rumah sakit perlu mengikuti regulasi tertentu sebagai sebuah sarana kesehatan, maka umumnya warga akan terbatas dalam mengatur penggunaan kamarnya, misalnya dengan menghias/melengkapi ruangan dengan barang pribadi, membawa perabot pribadi, dan sejenisnya.

Pemanfaatan Sarana–Peruntukkan utama rumah sakit adalah sebagai sarana pengobatan dan penyembuhan jangka tertentu, bukan sebagai tempat tinggal jangka panjang. Oleh karena itu secara umum biayanya akan paling tinggi di antara semua opsi hunian lansia yang ada karena dilengkapi dengan berbagai perlengkapan medis yang besar nilai investasinya.  

Nursing Home

Di Indonesia sudah tersedia beberapa nursing home swasta yang secara spesifik merupakan sarana hunian bagi warga senior yang memerlukan dukungan lebih dalam kehidupan sehari-hari, baik karena penurunan kondisi fisik ataupun kognitif. Sebagai sarana hunian dengan tingkat layanan yang spesifik, nursing home akan memiliki ragam staff di bidang keperawatan, seperti caregiver dan perawat, yang umumnya bekerja di bawah pemantauan dokter.

Faktor Pertimbangan:

Keamanan dan keselamatan – Keputusan untuk menetap di sebuah nursing home umumnya dibuat berdasarkan kebutuhan perawatan yang mungkin sudah ada. Maka rancangan sarana dan layanan yang tersedia sudah mendukung kebutuhan keamanan warga senior yang berkebutuhan khusus.

Sosialisasi dan kehidupan yang aktif – Meskipun merupakan sarana hunian bersama, kondisi masing-masing warga bisa menghambat kemampuan mereka untuk menginisiasi sosialisasi dan berkegiatan secara aktif. Sedangkan ketersediaan layanan dan program kegiatan yang terkoordinir berragam dari satu nursing home ke nursing home yang lain. Maka dalam mempertimbangkan nursing home sebagai opsi hunian, perlu diperhatikan layanan yang tersedia selain jasa perawatan. Misalnya, sarana seperti RUKUN Senior Care mengutamakan adanya program kegiatan rutin setiap harinya dengan tim Activity khusus yang memandu aneka kegiatan untuk mengoptimalkan keseharian warga. RUKUN Senior Care juga memiliki spesialisasi khusus dalam jasa dukungan bagi warga senior dengan demensia (Dementia Support) yang tidak tersedia di semua nursing home.     

Keleluasaan Pribadi – Di beberapa nursing home, warga yang menghuni sekamar bersama dengan orang lain umumnya tidak bisa menentukan siapa yang menjadi teman sekamarnya. Namun jika tersedia kamar pribadi, umumnya warga dapat menghias ruangan atau memakai perabot pribadi jika memberikan menyamanan lebih.

Senior Living

Konsep hunian lansia yang relatif baru di Indonesia adalah sarana senior living. Istilah senior living mencangkup sebuah fasilitas hunian komersil yang berawal dari bidang perhotelan (hospitality) atau properti, yang menyajikan opsi hunian berbentuk apartemen atau rumah individu (landed house) yang dirancang khusus bagi warga senior. Tergantung konsep yang diusung pengelolanya, unit hunian di senior living ada yang dapat dibeli dan yang bisa disewa.

Faktor Pertimbangan:

Kondisi Fisik Apartemen/Rumah – Karena dirancang secara spesifik sebagai hunian bagi warga senior, unit apartemen atau rumah senior living telah disesuaikan dengan kebutuhan warga senior. Misalnya, RUKUN Senior Living yang menyajikan hunian berbentuk apartemen dan rumah telah memastikan penggunaan material lantai yang tidak mudah licin, jenis dan posisi jendela yang aman, ketersediaan railing pada teras atau balkon yang memadai, dan tidak adanya perbedaan level permukaan lantai dari satu ruang ke ruang yang lain yang memerlukan step/anak tangga.

Perawatan dan pengelolaan rumah tangga – Umumnya hunian apartemen senior living sudah termasuk semua layanan rumah tangga, dari pembersihan rumah, pencucian pakaian, hingga penyediaan hidangan makanan. Di sisi lain, unit rumah di senior living biasanya dihuni oleh warga yang masih menginginkan gaya hidup yang sangat mandiri. Maka aneka layanan pengelolaan rumah tangga tidak termasuk biaya bulanannya, melainkan tersedia sebagai opsi jasa tambahan jika diinginkan.

Sosialisasi dan kehidupan yang aktif – Sebagai area hunian bersama, kebutuhan interaksi sosial bisa terdukung karena warga senior akan dengan mudah bertemu dengan warga lain dan para staff di sana. Selain itu, senior living yang  berlandaskan jasa perhotelan umumnya menyediakan tambahan layanan hiburan bagi warga dalam bentuk program kegiatan yang terkoordinir setiap harinya. Misalnya, sarana resort di RUKUN Senior Living dengan bentuk hunian apartemen, menyajikan jadwal kegiatan bagi warga setiap hari dan juga menyelenggarakan ragam aktivitas lainnya seperti wisata, event, dan hiburan seperti live music. Dan karena berada dalam kawasan senior living yang sama, warga yang menetap di unit rumah juga dapat menikmati aneka kegiatan dan acara yang tersedia jika berminat.

Keamanan dan keselamatanSenior living merupakan tempat yang aman bagi warga senior karena telah dirancang secara khusus mempertimbangkan kebutuhan warga senior, termasuk tersedianya jasa dukungan caregiver (Assisted Living) bagi warga yang memerlukan asistensi dalam fungsi hidup sehari-hari (Activities of Daily Living) dan tersedianya alat panggil darurat (Emergency Call) yang dipantau 24 jam oleh staff caregiver.

Keleluasaan Pribadi – Warga dengan rumah di kawasan senior living memiliki kebebasan yang sama seperti di rumah sendiri selama mengikuti peruntukkannya sebagai hunian bagi warga senior. Warga yang menetap di unit apartemen di sarana resort memiliki kebebasan selayaknya tinggal di hotel untuk datang/pergi dan menerima tamu kapan saja. Selain itu warga juga bebas menghias, melengkapi  dan menggunakan ruang apartemennya dengan barang dan perabotnya sendiri.  

Kesesuaian jangka panjang – Sarana senior living yang lengkap akan menyajikan konsep Continuing Care Retirement Community (CCRC) di mana setiap fase hidup seorang warga senior dapat dilayani dalam satu kawasan hunian dan layanan yang terpadu. Misalnya di RUKUN Senior Living,  warga senior dengan kehidupan yang aktif dan dinamis dapat memilih unit rumah yang mendukung gaya hidup yang sepenuhnya mandiri, atau dengan memanfaatkan aneka jasa yang tersedia, dari pembersihan rumah hingga layanan caregiver di rumah. Bagi warga senior yang mandiri tetapi menginginkan gaya hidup yang bebas dari tanggung jawab mengelola rumah tangga tersedia pilihan apartemen yang sudah termasuk segala layanan sehari-hari, dan tersedianya jasa asistensi caregiver jika diperlukan. Dan jika suatu hari warga memerlukan perawatan atau asistensi lebih karena kebutuhan dukungan fisik ataupun kognitif, maka tersedia pula sarana dan layanan di dalam kawasan yang sama.  

Baca Juga:
Biaya tinggal di RUKUN Senior Living
Klub Lansia

Tentunya masih ada alternatif hunian lainnya yang bisa menjadi opsi bagi warga senior, misalnya tinggal di hotel atau kapal pesiar seperti yang mulai lazim dilakukan warga senior di negara Barat. Namun sementara ini daftar di atas merupakan rangkuman beberapa alternatif hunian lansia yang sudah menjadi opsi bagi warga senior di Indonesia yang tidak tinggal dengan anaknya.

Referensi :
https://rukunseniorliving.com/alternatif-hunian-lansia/

Ragam Alternatif Hunian Lansia di Indonesia

2 thoughts on “Ragam Alternatif Hunian Lansia di Indonesia

Comments are closed.